Review 2015

31 12 2015

Hari ini hari terakhir di 2015. Entah karena kecapean atau karena sudah kehabisan tenaga, dari kemaren badan udah mulai kerasa ga enak. Sakit tenggorokan, hidung tersumbat, badan meriang, mata kunang-kunang, jantung berdetak tidak karuan (yang terkahir lebay sih). Tapi di tengah badan yang tidak enak ini untungnya hati saya baik-baik saja #Eaaa. Ngomongin 2015, gw merasakan yang namanya power of writing your resolution. Gw menulis resolusi gw untuk 2015 di blog gw. Setiap gw merasa kelelahan dan berjalan tak tentu arah, gw mulai membaca kembali apa harapan-harapan yang gw inginkan sepanjang 2015. Apakah itu bermanfaat? Dengan tegas gw jawab iya. Walaupun tidak sedikit kegagalan-kegagalan yang gw alami, tapi resolusi tersebut membawa gw untuk tetap berada di jalur yang tepat. Resolusi itu juga yang bikin gw selalu mengevaluasi ulang hidup gw. Resolusi itu jadi checklist gw, mana yang udah gw selesaikan dan mana yang masih jadi PR gw.

Ada 2 pencapaian besar yang gw dapatkan sepanjang tahun 2015 ini. Yang pertama adalah karier. Gw berharap di tahun 2015 gw dapetin posisi yang lebih banyak human interaction nya entah itu team leader, project leader, system analyst, ataupun business analyst. Dan gw sangat bersyukur gw dapetin kesempatan itu. Gw bersyukur gw dipercaya untuk jadi project leader. Walaupun setelah dijalani semuanya itu tidak semudah yang gw bayangkan. Gw harus belajar bagaimana menangani setiap komplain yang masuk baik itu dari tim gw sendiri maupun dari pihak luar. Gw juga harus belajar untuk memberikan solusi-solusi yang memang adalah solusi. Gw merasa energi gw banyak sekali dikuras. Setiap orang datang ke gw bawa masalah dan pulang pengen mendapatkan solusi. Ada saat dimana gw pengen berhenti aja dan menyerah, tapi gw bersyukur punya tim dan temen-temen yang selalu menguatkan. Gw bersyukur ada orang-orang yang selalu memberikan dukungan dan menguatkan gw di saat-saat yang sulit. Masalah pasti dan akan selalu ada. Tapi solusi pun selalu ada untuk setiap masalah yang datang.

Awal tahun kemaren gw mengharapkan kehadiran seseorang untuk selalu menemani hari-hari gw. Dan kamu adalah jawabannya #Eaaa. Kamu adalah anugerah yang Tuhan kasih buat aku. Makasih banyak udah menemani hari-hari gw. Makasih banyak selalu ada di saat-saat gw kesulitan. Biarpun kadang u ngeselin dan rese, tapi gw percaya yang namanya proses pendewasaan. Mungkin orang-orang di luar sana under estimate dengan hubungan ini, tapi di saat orang menganggap remeh justru itulah saat yang tepat untuk membuktikan. Makasih udah bikin hari-hari gw di taun ini sangat berwarna. Makasih udah ada ketika gw sedih dan ketika gw sedang dalam kesulitan. Semua orang bisa ada ketika gw bahagia, tapi hanya orang-orang tertentu saja yang bisa tetep bertahan ketika gw dalam kesulitan. Makasih udah jadi salah satu orang tersebut. Jadi salah satu orang yang tetep bertahan ketika gw dalam kesulitan.

Tidak ada yang sempurna. Meskipun ada banyak hal yang berhasil gw raih. HP baru, istri baru(laptop), liburan ke pantai, dll. Tapi taun ini gw juga tidak lepas dari berbagai kekurangan. Salah satu yang masih belum bisa gw perbaiki dengan baik adalah kerohanian. Masih sangat sulit untuk bisa konsisten doa dan saat teduh pribadi. Kadang terlalu cape dan bangun kesiangan seringkali jadi hambatan. Selain itu mungkin pola pikir untuk menganggap itu sebagai sebuah prioritas yang sangat penting yang harus diperbaiki. Kadang gw masih suka menganggap enteng. “Ah udahlah nanti lagi aja” atau “Aduh udah telat nih” atau “Ngantuk banget euy”. Kalimat-kalimat seperti itu mungkin yang harus banyak diperbaiki untuk tahun depan.

Kurang lebih itulah yang gw dapetin sepanjang tahun kemaren. Gw bersyukur buat setiap keajaiban dan buat setiap anugerah yang udah Tuhan kasih sepanjang hidup ini. Gw bersyukur buat setiap kebaikan dan pembelajaran yang Tuhan kasih sepanjang tahun 2015. Gw percaya setiap hal terjadi untuk alasan tertentu. Minimal ada sebuah pembelajaran yang bisa gw dapetin melalui setiap kejadian-kejadian yang terjadi. Gw mau menutup post ini dengan kalimat dari film Single – Raditya Dika, “Untuk memulai sesuatu yang baru, kita harus mengakhiri masa lalu”. Setiap kenangan masa lalu pasti akan selalu berbekas, tapi percayalah itu adalah sebuah proses yang mendewasakan kita. Makasih banyak 2015. I’m ready for 2016.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: