Persepsi

10 12 2015

Persepsi. Apakah itu? Biasa orang kalau nikahan suka bikin persepsi. Itu resepsi Bu #NgomongSendiriJawabSendiri. Persepsi itu sebenernya adalah sebuah minuman soda saingannya coca-cola. Itu PEPSI #Plak. Oke serius. Sebenernya pengen cerita soal ini udah lama. Tapi lagi-lagi dalam badai kesibukan yang terjadi belakangan ini bikin gw kehilangan niat untuk menulis. Untungnya tiba-tiba niat untuk menulis itu datang dengan menggebu-gebu. Dan tiba-tiba inspirasi datang dari mana. Akhirnya saya pun sibuk ngurusin inspirasi dan jadi ga sempet nulis lagi. Gitu aja terus sampai ladang gandum dihujani coco crunch.

Ngomongin soal persepsi ini sebenernya semi curhat sih. Hahaha.. Ada 2 kondisi yang kemaren bikin gw kepikiran untuk share soal ini. Persepsi itu begitu penting tapi ketika disalah gunakan akan menjadi sesuatu yang bahaya. Dua-duanya terjadi di kantor. Kasus pertama adalah sistem yang gw bikin terhubung dengan operator seluler yang nantinya akan mengirimkan sms ke customer. Dalam beberapa kejadian customer tidak menerima sms. Karena persepsi, customer tersebut menyalahkan sistem yang gw bikin yang ngaco. Padahal dari sisi sistem gw, semua berjalan dengan lancar dan baik-baik saja. Tapi persepsi customer ini yang menganggap bahwa operator seluler tidak mungkin melakukan kesalahan menyebabkan gw yang tidak bersalah dinyatakan bersalah dan operator seluler yang sebenernya melakukan kesalahan menjadi terbebas dari kesalahan. The power of persepsi.

Kasus yang sama terjadi di kasus kedua. Sebuah bank terkenal yang katanya bank pusat asia melakukan transfer ke rekening bank yang terhubung dengan sistem gw. Nasabah tersebut gagal melakukan transfer ke tempat gw dari bank pusat asia tersebut. Nasabah memiliki persepsi bahwa bank sebesar itu tidak mungkin melakukan kesalahan dalam sistemnya. Maka lagi-lagi sistem gw lah yang dituduh bermasalah. Padahal dari sisi sistem gw tidak ada kendala terkait dengan permintaan transfer tersebut. Tapi berkat persepsi bahwa bank sebesar itu tidak mungkin melakukan kesalahan akhirnya gw yang baik hati, imut, dan suka menolong ini menjadi korban dari persepsi.

Persepsi menjadi begitu penting sekaligus berbahaya. Persepsi membuat orang memiliki sebuah kepercayaan lebih bahwa apa yang terjadi sesuai dengan apa yang dipikirkan. Tapi persepsi juga dapat membuat orang lain menjadi korban ketika kita salah dalam menilai. So, sebelum kita mulai menilai sesuatu mari kita melihat dari sudut pandang yang netral. Jangan sampai persepsi kita terhadap suatu hal membuat kita tidak bisa menilai dengan benar.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: