Fairless Tale -Part 2-

29 08 2015

Di post sebelumnya gw cerita soal knowledge. Gw cerita soal setiap knowledge yang kita peroleh akan sangat berpengaruh terhadap setiap keputusan yang kita ambil. Berbagai keputusan termasuk soal cinta. Yupz.. sebuah kata sensitip yang tabu untuk diungkapkan. Tapi saya akan membukakannya kepada Anda setajam silat eh silet #EdisiFennyRose.

Bagi sebagian orang atau mungkin hanya bagi saya sendiri T_T cinta memberikan luka yang mungkin cukup berbekas. Berbagai pengalaman soal cinta(baik dari diri sendiri maupun dari orang lain) akan sangat berdampak terhadap cara pandang kita terhadap cinta itu sendiri. Ada orang yang berpandangan bahwa cinta bisa menguatkan tapi di sisi lain ada orang yang berpandangan cinta itu justru hanya merepotkan saja. Ada orang yang berpandangan bahwa cinta itu menyenangkan tapi bagi sebagian orang cinta selalu membawa kesedihan yang tidak berujung. Semua pandangan yang berbeda tersebut karena mereka mempunyai knowledge yang berbeda soal cinta.

Beberapa orang mungkin mendapatkan kasih sayang yang luar biasa dari orang tua mereka sebaliknya ada orang tua yang mendidik anaknya dengan kekerasan sehingga anaknya tidak mendapatkan kasih sayang yang cukup. Beberapa orang jalan percintaannya begitu mulus namun beberapa lainnya mengalami jalan yang terjal. Beberapa orang mungkin selalu mendengar cerita indah soal cinta, tapi beberapa lainnya justru mendengar orang-orang yang begitu tersiksa karena berada di cinta yang salah. Dan sekali lagi semua informasi yang kita peroleh tersebut pasti akan menjadi sebuah knowledge yang suatu hari nanti akan kita proses sebagai pertimbangan dalam mengambil sebuah keputusan. Bahkan hanya dari film pun yang jelas-jelas hanyalah sebuah cerita fiksi akan membentuk sebuah knowledge mengenai percintaan. Bagi wanita yang menyukai film-film korea pasti akan terbentuk sebuah knowledge bahwa cowo itu harus gentle seperti Aliando Ganteng Ganteng Serigala. Berlaku juga buat cowo-cowo penggemar JAV. Di otak mereka sudah terbentuk sebuah knowledge bahwa cewe itu harus semanis, seseksi, dan semenggariahkan Maria Ozawa.

Knowledge adalah salah satu yang membedakan manusia dengan makhluk ciptaan Tuhan yang lainnya. Kucing betina bisa begitu mudah berhubungan dengan kucing jantan padahal jelas-jelas mereka baru saja berkenalan. Kucing jantan tersebut bahkan punya gebetan kucing betina lain di rumah sebelah. Itu kucing, mereka tidak punya knowledge. Manusia dikasih knowledge. Manusia tidak akan dengan mudahnya membiarkan lawan jenis yang baru saja dikenalnya untuk masuk ke dalam kehidupannya. Dari setiap knowledge yang mereka miliki, manusia pasti akan menyeleksi lawan jenis seperti apa yang boleh masuk dalam kehidupannya. Itu proses yang sangat wajar dan sangat manusiawi. Gw pun tidak menyalahkan proses tersebut dan bahkan gw menganjurkan kalian untuk melakukan proses tersebut. Yes akhirnya nyambung juga ke topik intinya. Hahaha..

AKAN TETAPI yang tidak wajar adalah kamu melakukan proses seleksi yang sama untuk semua jenis manusia yang menghampiri hidup kamu. Mungkin kamu sering protes soal ketidak-adilan ujian nasional. Gimana ceritanya soal untuk anak-anak sosialita di pulau jawa disamakan dengan sekolah-sekolah di pedalaman yang infrastruktur-nya ga jelas. Kalau kamu protes soal hal tersebut, harusnya kamu juga tidak menerapkan prinsip yang sama dalam proses seleksi lawan jenis.

Sekali lagi gw tidak memprotes proses seleksi yang kamu lakukan. Yang gw protes adalah perlakuan yang sama yang kamu terapkan terhadap semua orang. Misal: dulu kita pernah disakiti oleh lawan jenis katakanlah dia adalah lawan jenis yang bajingan, suka main kasar, tukang selingkuh. Lalu dari knowledge tersebut kamu jadi lebih protektif terhadap diri kamu sendiri. Kamu tidak mau hati kamu terluka lagi. Itu membentuk mindset baru dalam pikiran kamu bahwa semua lawan jenis yang menghampiri kamu adalah bajingan. So, setiap ada lawan jenis yang berusaha menghampiri kamu, kamu sudah menyiapkan serangkaian proses seleksi yang diperuntukkan untuk cowo-cowo bajingan padahal yang ikut test adalah cowo baik-baik yang kapasitas seleksinya belum sampai ke level cowo-cowo bajingan. Sampai suatu titik akhirnya kamu menganggap cowo baik-baik tersebut gagal lulus test. Hal tersebut terus berulang sampai PERSIB ikut liga champions eropa.

Buat yang menerapkan prinsip-prinsip seleksi lawan jenis seperti itu, bayangkan ilustrasi berikut ini. Hati kamu adalah sebuah mall. Dulu banget nih, mall kamu pernah dibom sama teroris. Nah belajar dari pengalaman tersebut, kamu akhirnya sangat berhati-hati dan tidak mau kejadian serupa terjadi lagi sama kamu. Kamu pengen ada yang mengunjungi mall kamu dan melakukan promosi-promosi atau event-event. Tapi karena kamu masih punya trauma takut mall kamu dibom lagi, kamu menerapkan keamanan berlapis. Waktu parkir kendaraan dicek sana-sini. Pengunjung disuruh turun. Barang-barang bawaan dibukain satu-satu. Selesai parkir waktu pengunjung masuk mall, disuruh isi formulir pernyataan bahwa pengunjung hanya ingin mengunjungi mall saja dan tidak ada maksud jahat. Di formulir tersebut harus melampirkan juga surat keterangan catatan kriminal yang menyatakan bahwa pengunjugn tidak pernah terlibat dalam kegiatan kriminal apapun. Gimana? Apa kamu masih mau mengunjungi mall tersebut? Kalau gw sih mau sebagus apapun mall tersebut, gw sih males ngunjunginnya. Prosedurnya ribet. Mending gw cari mall yang lain lah.

Dalam sebuah sistem termasuk cinta, security memang ga boleh kita abaikan. Seperti yang gw jelaskan sebelumnya proses seleksi terhadap lawan jenis itu memang wajib adanya. Itu adalah sebuah keharusan. Tapi biarpun itu wajib kita harus mengemasnya dengan sesuatu yang wajar. Jangan sampai kita beranggapan bahwa semua orang yang hadir dalam hidup kita bertujuan untuk menyakiti kita. Boss gw pernah cerita, dalam sebuah sistem, security harus disajikan tanpa mengurangi kenyamanan dalam menggunakan sistem tersebut. Termasuk juga dalam cinta, kamu harus mengemas proses seleksi terhadap lawan jenis tanpa membuat dia merasa sedang diuji dan sedang dibikin ribet. Gimana caranya? Itulah gunanya knowledge. Cari informasi sebanyak-banyaknya terutama informasi yang sifatnya fakta dan bukan sekedar hanya asumsi saja. Ketika kamu mulai menemukan asumsi, gali lagi supaya setiap asumsi itu bisa dikonversi menjadi sebuah fakta yang bisa dipertanggung-jawabkan. Balik lagi ke mall tadi, daripada kita repot-repot mencurigai semua orang sebagai teroris, kita bisa menggali informasi dari pihak lain. Kita bisa minta bantuan dari polisi atau mencari informasi dari badan intelejen negara. Namun security di dalam mall itu tetap perlu disajikan tanpa mengurangi kenyamanan dari pengunjung mall.

Kenapa gw cerita soal ini? Gw merasa sebagai korban sekaligus pelaku dari ketidak-adilan tersebut. Mulai dari pelaku dulu kali yah biar seru. Dulu gw adalah cowo baik-baik, sampe sekarang sih. Tapi karena pengalaman sebagai cowo baik-baik yang banyak dimanfaatkan oleh pihak-pihak tidak berkepentingan, jadi membentuk sebuah knowledge dalam diri gw kalau cowo baik-baik itu tidak pernah menarik bagi lawan jenis. So, gw memperlakukan semua lawan jenis sebagai pihak yang ga seneng sama cowo baik-baik dan lebih tertarik sama cowo bajingan. Akhirnya gw berusaha bersikap bajingan sama orang-orang tersebut. Ya itu salah satu contohnya. Gw salah karena gw sudah beranggapan/memperlakukan semua orang seperti knowledge yang gw dapet. Padahal mungkin entah di belahan dunia yang mana ada seorang wanita yang mendambakan sosok cowo baik-baik, rajin menabung, pekerja keras, dan pegiat anti korupsi kaya gw ini. Hahaha.. Apa sih.

Sebenernya cerita-cerita di atas adalah curahan hati gw sebagai korban. Wkwkwk.. Dalam beberapa kejadian gw merasa, ada banyak sekali(lebih dari 2) wanita-wanita yang karena pengalaman masa lalunya mencurigai gw sebagai teroris yang akan membom hati mereka. Alhasil mereka menyiapkan serangkaian test sulit yang diperuntukan bagi anak-anak sosialita di pulau jawa padahal gw adalah anak dari pedalaman yang berusaha so paling sosialita. Apakah gw menyerah? Tidak. Apakah gw berhasil lulus test itu? Juga tidak. Hahaha.. Kalau gw lulus test mah ngapain juga gw sharing soal beginian.

Kalimat penutup dari gw. Adil itu bukan berarti sama. Adil adalah menempatkan sesuatu tepat pada porsinya. Yang lebih dituntut lebih dan yang kurang dituntut secukupnya. Kita ga mungkin menuntut ayam untuk terbang karena mereka memang tidak didesain untuk terbang.

Gw berharap cerita ini bisa menginspirasi kalian para bajingan yang membuat gw jadi kesusahan. Wkwkwk.. Buat kamu para bajingan di luar sana(ketika nunjuk orang lain 3 jari nunjuk diri sendiri), kalian perlu menyadari bahwa apapun tindakan kalian itu akan berdampak banyak bagi orang lain. Mungkin begitu sederhanya kalian menggoreskan luka bagi orang lain, tapi bertahun-tahun kemudian ada cowo baik-baik, imut, dan lucu kaya gw yang terkena impactnya. Ada orang-orang yang tidak bersalah yang dicurigai sebagai bajingan-bajingan seperti kalian. Wkwkwk…


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: