Pengampunan Part 2

26 08 2015

We talk about pengampunan. Di sesi 1 gw cerita banyak soal proses gw mengampuni keluarga gw. Tadi cerita baru sampai gw masuk kuliah. Nah berikutnya adalah cerita-cerita seru yang masih berdampak sampai sekarang. Tingkat 3 gw OSPEK angkatan 2011 di Kapulaga. Itu awal perjumpaan gw dengan si dia. Si dia yang dikemudian hari menggoreskan sebuah luka yang sampe sekarang belum bisa gw sembuhkan. Si dia yang ketika gw inget, bikin gw senyum-senyum sendiri sekaligus kesel sendiri. Untuk melindungi identitas dia, mari kita samarkan saja namanya LL.

Hari itu gw kuliah siang, ITHB kalau siang-siang itu tempat parkir motor udah kaya dealer motor aja. Isinya motor semua. LL kesulitan mengeluarkan motornya. Dan layaknya FTV, BS so paling jagoan bantuin LL untuk keluarin motornya. Hahaha.. Jadi pengen ketawa kan nyeritainnya. Setelah kejadian itu, gw merasa mata gw dibutakan oleh hal bullshit bernama cinta. Dan bodohnya gw memproses perasaan itu menjadi sesuatu yang disebut harapan. Ya gw berharap LL jadi wanita terakhir dalam hidup gw. Dengan so paling jagoan lagi-lagi gw berusaha keras untuk memikat hati LL. So paling perhatian, so paling bantuin dia kalau lagi kesulitan, so paling setia, dll. Sampai akhirnya gw sadar semua yang gw kerjakan itu hanyalah kesia-siaan. Gw bukan Salomo yang bisa memikat 1000 wanita begitu saja. Gw hanyalah seorang biasa yang menganggap dirinya tidak biasa dan berharap suatu hari nanti menjadi orang luar biasa. Kamar, komputer, dan Yahoo Messenger jadi saksi bisu hubungan gw dengan LL yang udah kaya roller coaster. Gw berharap keajaiban terjadi. Gw berharap Tuhan tiba-tiba kasian dan merasa iba sama gw, lalu membukakan pintu hati LL buat gw. Tapi sepertinya hal-hal tersebut hanya ada dalam dongeng saja. Sampai gw pergi ke Jakarta keajaiban itu ga pernah datang. Gw pergi ke Jakarta dengan hati yang gw buat setenang mungkin. Walaupun jauh di dalam lubuk hati gw yang paling dalam gw berharap LL kembali.

Kekecewaan terbesar gw berikutnya adalah ketika gw ditolak oleh sebuah perusahaan terkemuka di dunia ini. Samsung menggoreskan luka lain dalam hati gw. Setelah berkali-kali mengirimkan email ke HRD, jawaban itu ga pernah datang. Sampai akhirnya seorang teman membukakan sebuah jalan. Senin siang gw diundang untuk ikut interview. Biasanya gw interview dengan sangat santai. Tapi entah kenapa kali ini gw begitu deg-degan. Apakah ini cinta? Hahaha.. Interview diadakan dalam 2 sesi. Sesi pertama adalah test tertulis dan sesi berikutnya adalah wawancara. Test tertulis udah cukup bikin gw pesimis untuk bisa join perusahaan ini. Tapi lagi-lagi harapan lah yang bikin gw berusaha sekeras mungkin untuk bisa survive di sesi wawancara. Dan hasilnya adalah jawaban-jawaban konyol yang meluncur dari mulut gw. Selesai interview, gw tau hasilnya akan seperti apa. Lagi-lagi keajaiban lah yang bikin gw berharap sebuah hal besar terjadi. Dan lagi-lagi keajaiban itu hanyalah sebuah mitos.

Gagal masuk Samsung benar-benar membuat gw terpukul. Gw menjalani hari-hari berikutnya dengan penuh kekecewaan dan patah semangat. Selesai kontrak di Accenture gw kelimpungan cari tempat kerja baru. Gw sampai di masa-masa gw kembali mempertanyakan kenapa hal ini terjadi sama gw. Kenapa gw gagal masuk Samsung. Kenapa gw malah pilih Accenture. Kenapa dulu gw ga pilih perusahaan lain. Kenapa kenapa dan kenapa. Itulah pertanyaan yang selalu muncul di kepala gw. Takdir membawa gw kembali ke Bandung. Gw berasa pecundang yang gagal berperang di negeri orang dan kembali untuk jadi penduduk lokal yang mengerjakan aktivitas-aktivitas sehari-hari.

Kembali ke Bandung mengajarkan gw sebuah kata. Proses. Ya, gw belajar ga ada yang instant. Ada proses yang harus kita lalui dan terkadang proses itu menyakitkan. Seiring berjalannya waktu gw akhirnya mulai merasa nyaman berada di perusahaan yang baru ini. Gw mulai mendapatkan banyak hal yang luar biasa di perusahan ini. Termasuk di kota Bandung. Gw berusaha move on baik dari Samsung maupun dari LL. Bandung kemudian menyajikan sebuah cerita cinta lain untuk gw konsumsi. Komunitas gereja mengenalkan gw pada seorang wanita bernama ST. Cinta membuat gw begitu buta. Gw tergila-gila sama ST sampe akhirnya gw merasa gw harus berhenti memperjuangkan seseorang yang mungkin tidak pernah memperhitungkan kita. Sebenernya sebelum gw mengenal ST, ada wanita lain yang mencuri perhatian sebut saja dia YN. Ini udah kaya cerita kriminal aja yah. Hahaha.. Semakin gw mengenal YN, semakin gw merasa dia sosok yang begitu luar biasa. Istri ideal versi on the spot lah.

Niat gw untuk mendekati YN terkendala oleh komunitas. Gw pengen banget deketin dia tapi gw ga mau komunitas yang jadi korban. Biar bagaimana pun juga komunitas adalah yang utama. Entah apa yang terjadi di belakang layar, tiba-tiba YN bilang gw boleh deketin dia. Mendengar pesan itu, gw langsung loncat-loncat kegirangan. Sepanjang jalan pulang dari kantor, gw udah kaya anak kelinci yang baru dikasih makan sate kelinci tapi ga tau kalau itu sate kelinci. Seneng banget lah pokonya. Rasanya gw pengen teriak-teriak sepanjang jalan itu dan meluk-melukin setiap orang yang lewat.

Tapi semua berubah ketika negara api menyerang. Hahaha.. Naon sih ah. Cerita indah itu hanya kami lalui sebentar saja. Setelah itu, konflik demi konflik lah yang bermunculan. Sampe akhirnya gw merasa, gw dipaksa untuk berhenti deketin dia. YN jadi kekecewaan gw yang berikutnya. Kali ini gw ga berharap ada keajaiban karena gw tau keajaiban itu adalah hal bullshit yang hanya ada di dongeng dan di film-film. Gw juga ga percaya dengan kalimat-kalimat penghiburan yang so paling ngasih kekuatan buat gw. Dan lebih parah dari itu, gw mulai meragukan Tuhan yang berkuasa dalam hidup gw. Gw merasa berbagai kegagalan-kegagalan yang gw alami sangatlah tidak fair. Gw berpikir kenapa gw yang anak baik-baik, imut, dan lucu ini qo hidup gw tidak sesuai dengan yang gw harapkan padahal di luar sana ada banyak bajingan-bajingan yang menggunakan cara-cara kotor untuk mendapatkan apa yang mereka mau. Kenapa mereka berhasil sedangkan gw tidak?

Beberapa minggu belakangan ini gw mengeraskan hati gw, gw ga mau denger apa kata orang. Gw ga mau tau apa yang Tuhan inginkan. Gw mau pake cara gw sendiri aja. Tapi di doa malam tadi, entah kenapa gw terpikir soal tulisan ini. Tiba-tiba gw dapet inspirasi soal pengampunan. Tiba-tiba gw flashback soal pengampunan. Soal gw yang menganggap enteng pengampunan. Soal berbagai kekecewaan-kekecewaan yang pernah gw alami. Terkadang gw berharap hidup itu kaya game. Ketika kita gagal melakukan sesuatu, kita bisa flashback ke suatu checkpoint dan mencoba merubah sesuatu menjadi lebih baik. Sayangnya waktu tidak pernah bisa kembali. Ketika kamu gagal, kamu hanya bisa belajar dari kegagalan tersebut agar kegagalan yang sama tidak terulang kembali.

Bicara soal pengampunan, gw akui ini tidaklah mudah. Kejadian-kejadian ini bikin gw sadar kalau memang mengampuni itu tidak semudah apa yang kita ucapkan. Kadang kekecawaan-kekecewaan itu masih membekas dalam hati. Entah sampai kapan kekecewaan itu bisa pulih. Hmmnnn.. Mungkin sampai kita memahami rencana besarnya Tuhan lewat setiap peristiwa-peristiwa tersebut. Last statement dari gw, mungkin secara manusia akan sangat sulit bagi kita untuk mengampuni entah itu mengampuni orang lain atau mungkin mengampuni diri kita sendiri. Tapi kita punya Tuhan yang Maha Pengampun. Dia begitu mengasihi kita. Dia tau apa yang terbaik buat kita, kita hanya belum bisa melihatnya dari sudut pandang kita saat ini.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: